‘Bagaimana Saya sampai disini’ – Wawan Sujarwo

Wawancara dengan Dr. Wawan Sujarwo, peneliti senior di Kelompok Penelitian Etnobiologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia; dan direktur eksekutif untuk Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia. Sebagai bagian dari rangkaian wawancara baru untuk SEB

English version here.

Jelaskan diri Anda dengan kata-kata Anda sendiri. Apakah Anda menganggap diri Anda sebagai ahli etnobotani atau Anda memiliki cara lain untuk memandang diri Anda sendiri?

Saya lebih suka orang memanggil saya ahli etnobotani, meskipun saya tidak mempelajari program tertentu tentang etnobotani sebelum saya menyelesaikan PhD. Saya menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Indonesia (sama dengan presiden Indonesia saat ini 😊), jadi awalnya saya berpikir untuk menjadi petugas kehutanan. Sebelumnya, saya adalah direktur Kebun Raya Cibodas di Jawa Barat, dan kepala pelayanan jasa dan informasi di Kebun Raya Bali. Kebun Raya merupakan bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Saat ini saya adalah peneliti senior di Kelompok Penelitian Etnobiologi, Pusat Penelitian Biologi. Saya juga direktur eksekutif untuk Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia.

Jelaskan pekerjaan Anda / apa yang Anda lihat sebagai misi Anda

Etnobotani adalah tentang melestarikan tumbuhan dan budaya. Dan misi saya jelas, kita harus bertanggung jawab menjaga pengetahuan lokal tentang tumbuhan dan keanekaragaman hayati ini untuk generasi yang akan datang. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi dalam 30 tahun ke depan. Tapi bagaimana cara mengerjakan misi itu? Kita bisa melestarikan tumbuhan di kebun raya dan di habitat alaminya, serta menyimpan voucher tumbuhan dalam bentuk herbarium. Dan untuk pengetahuan etnobotani dapat didokumentasikan melalui hasil-hasil penelitian yang dipublikasikan. Contohnya, saya sangat suka dengan repositori artikel di jurnal Economic Botany. Sangat mudah untuk mendapatkan kembali begitu banyak artikel dan informasi sejak terbitan pertamanya yang diterbitkan sudah lama sekali. Untuk mendukung misi saya, baru-baru ini, saya mulai mengembangkan proyek menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk menyimpan pengetahuan etnobotani dengan lebih baik.

Apa / dimana kamu belajar? Apakah menurut Anda hal ini memengaruhi Anda dengan cara tertentu?

Seperti yang saya sebutkan diatas, saya menyelesaikan studi sarjana kehutanan di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Indonesia. Setelah itu saya bergabung dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan yang terjadi adalah mereka menugaskan saya untuk bekerja di Kebun Raya Bali sebagai calon peneliti. Tapi tahukah Anda, mereka mendorong saya untuk memperkuat latar belakang saya dan untuk belajar lebih banyak. Jadi saya mulai mencari peluang, dan pada tahun 2012, saya mendapat dua pilihan dan dapat memilih untuk mendaftar di program PhD di Jerman atau di Italia. Mentor Italia saya mengatakan bahwa saya harus membuat disertasi tentang “etnobotani di Bali”. Jadi saya memutuskan untuk pergi ke Università degli studi di Roma Tre untuk belajar program yang disebut Biodiversity and Ecosystem Analysis, dan saya mengatur topik saya menjadi etnobotani Bali. Supervisor saya adalah Giulia Caneva, yang memiliki latar belakang yang lebih luas di bidang botani. Namun kemudian, saya menjadi stres ketika mengetahui bahwa saya harus menerbitkan setidaknya tiga artikel ilmiah di jurnal internasional! Terutama karena saya belum pernah menerbitkan di jurnal internasional sebelumnya! Jadi, di tahun pertama saya di Italia, saya kehilangan berat badan hampir 12 kg dan bertanya-tanya apa yang harus saya lakukan?! Kemudian saya mengatur waktu, konsentrasi dan bekerja keras, dan saya berhasil menerbitkan artikel pertama saya di jurnal Economic Botany! Oh, saya sangat senang! Artikel tersebut membahas tentang erosi pengetahuan etnobotani masyarakat lokal di Bali tentang tumbuhan pangan dan nutraceutical. Sejak saya terlibat dalam penelitian etnobotani, saya menyadari betapa saya menyukai etnobotani. Itu adalah masa emas saya melakukan penelitian etnobotani di Bali, terutama karena orang-orang lokalnya yang sangat ramah.

Wawancara dengan Balian Usada (seorang praktisi medis asli yang memiliki pengetahuan tentang penggunaan tumbuhan). Dia menunjukkan kepada kami Lontar Usada (naskah kuno pengobatan tradisional Bali, ditulis di atas daun Lontar/Borassus flabellifer dalam bahasa Bali kuno)

Sebelum Roma, saya telah mengunjungi Jerman untuk kursus singkat di Technische Universität Dresden. Lalu di Roma semuanya baik-baik saja, tapi nyatanya saya menghabiskan banyak waktu dengan pengumpulan data etnobotani di Bali. Mengambil gelar PhD di Eropa mengajari saya cara mengelola data dan membaginya untuk setiap topik. Saya juga belajar bagaimana mengatur waktu dan pekerjaan. Tetapi yang lebih mengubah saya sebagai pribadi, sebenarnya, adalah kerja lapangan di Bali karena saya dari Jawa, dan ini adalah pengalaman budaya yang sama sekali baru bagi saya. Namun dari segi karier, penerbitan di jurnal internasional membantu saya memasuki komunitas ilmiah global, sebelumnya saya tidak memiliki banyak keluaran dan tidak dikenal. Kami punya 24 jam sehari, dan sejak studi saya, saya telah mengikuti pola kerja minimal 6 jam per hari (meski sering juga di akhir pekan).

Apa yang membuat Anda tertarik pada etnobotani?

Pada dasarnya, saya diminta oleh supervisor Italia saya untuk menjadi seorang ahli etnobotani! Dan saya senang untuk itu. Sejak saya melakukan penelitian lapangan etnobotani pertama saya, saya semakin tertarik pada etnobotani. Terutama karena berinteraksi dengan komunitas tradisional Bali dan merasakan budaya mereka yang luar biasa.

Setelah selesai kerja lapangan (keluar dari hutan), kami berfoto bersama dengan anak-anak di Desa Penglipuran, Bali

Apakah Anda pernah berpikir Anda akan menjadi seorang ahli etnobotani? Anda ingin menjadi apa saat masih kecil? Jika Anda bukan ahli etnobotani, Anda akan menjadi apa?

Tidak! Seperti yang saya sebutkan diatas, saya memulai studi kehutanan, jadi saya pikir saya akan menjadi seperti petugas kehutanan untuk pemerintah Indonesia. Saya tidak memiliki visi tertentu tentang pekerjaan masa depan saya selama masa kanak-kanak, karena saya adalah tipikal orang yang berfikiran simple/sederhana yang tidak memiliki mimpi, hehe, cara saya adalah mengikuti kehidupan dan hal-hal yang dibawanya.

Wawan di pantai Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur pada tahun 2008

Apa yang membuat Anda memilih tema penelitian Anda saat ini dalam etnobotani?

Saya memiliki minat etnobotani yang luas, tidak hanya satu tema tertentu. Secara realistis, fokus aktual dan tema spesifik juga bergantung pada dana hibah dan proyek. Saya telah banyak fokus pada Etnobotani Bali, tetapi sekarang sejak saya bergabung dengan kelompok penelitian etnobiologi di Bogor, ide-ide saya berkembang di sini, dan saya senang menjadi bagian dari Herbarium Bogoriense, herbarium tertua di Asia Tenggara yang didirikan pada tahun 1841. Selain etnobotani klasik, saya mulai tertarik pada sisa-sisa tumbuhan dan archaeobotani/paleo-etnobotani, meskipun saya bukan ahli dalam hal ini, tetapi saya ingin memperluas keahlian saya di masa mendatang.

Siapa orang yang paling berpengaruh dalam karier Anda? Apakah pernah ada tindakan (kebaikan / takdir) yang mengubah jalan hidup Anda?

Orang tua saya! Ibu saya mengajar di sekolah dasar, dan ayah saya adalah seorang petani (dia meninggal tahun lalu). Keduanya mendorong saya untuk giat belajar. Saya besar di desa terpencil di Jawa Tengah, dan kedua orang tua saya memotivasi dan mendukung saya untuk rajin belajar. Saya berterima kasih kepada mereka. Saya selalu termotivasi untuk membagikan karya dan temuan saya selama ini, jadi sekarang saya sangat senang karena mahasiswa Ekonomi Botani meminta saya untuk berbagi tentang diri dan karya saya, meskipun saya tidak tahu bahwa “Saya sampai di sini” 😊

Apa puncak karir Anda? Momen yang Anda banggakan?

Momen yang saya banggakan adalah ketika saya memperoleh gelar PhD. Momen penting kedua adalah ketika saya mendapat promosi menjadi kepala kebun raya. Namun untuk mengatur posisi seperti ini membutuhkan banyak koordinasi dan administrasi, sehingga kegiatan penelitian agak terkesampingkan. Prestasi yang lebih umum bagi saya adalah ketika saya mempublikasikan artikel di jurnal internasional, yang membawa lebih banyak pengakuan di tingkat global.

Dan dalam suasana redup? Apakah pernah ada saat Anda melihat diri sendiri dan berpikir apa yang saya lakukan / bagaimana saya bisa sampai di sini?

Saya mengalami saat-saat stres selama proses tinjauan artikel ketika saya menerima ulasan yang sangat sulit dari pengulas. Ini terkadang sangat menantang dan membuat stres. Langkah demi langkah, mulai dari yang termudah, saya yakin kita dapat menggabungkan semua komentar pengulas J

Apa saran utama Anda untuk mahasiswa etnobotani? (mungkin 1 atau 2 tips, atau hal-hal yang Anda harap Anda ketahui sebagai mahasiswa?

Saran utama saya adalah belajar mengatur waktu Anda dengan baik – bekerja setidaknya enam jam per hari, yang menurut saya adalah waktu kerja yang optimal. Jika Anda fokus, Anda bisa melakukan banyak hal dalam waktu itu, tapi jangan banyak ngobrol di waktu tersebut, hehe! Rekomendasi lainnya adalah membaca buku dan metodologi penting, yang akan membangun dasar yang kokoh untuk penelitian dan pekerjaan Anda. Menjaga sikap yang baik saat melakukan wawancara dengan responden yang Anda targetkan (pengumpulan data) adalah sangat penting.

Kerja lapangan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (bagian dari Kepulauan Sunda Kecil)

Bagaimana Anda melihat masa depan etnobotani? yaitu tren baru, area yang belum diteliti, area yang banyak diteliti? Apa yang Anda lihat sebagai misi etnobotani terpenting untuk masa depan?

Saya pikir kita harus memanfaatkan potensi teknologi baru. Sekarang saya dan kolega saya Marc Böhlen sedang mengembangkan ide tentang bagaimana mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam etnobotani. Artificial intelligence adalah teknologi yang dapat membantu kita menyimpan pengetahuan etnobotani dalam database atau tempat penyimpanan informasi tertentu. Kami mencoba mengembangkan perangkat lunak yang menyimpan gambar tumbuhan, dan kemudian kami dapat menambahkan informasi etnobotani (pekerjaan sedang dalam proses). Di dunia, masih banyak tumbuhan yang bermanfaat, tetapi manusia hanya menggunakan sedikit dari mereka, jadi kita harus mengembangkan lebih banyak tanaman pangan dan sumber daya tanaman lainnya, termasuk domestikasi beberapa tumbuhan liar dan semi-liar yang menjanjikan.

Siapa peneliti etnobotani favorit Anda?

Saat ini, saya mengagumi karya Ulysses Albuquerque, yang menurut saya sangat produktif dan menginspirasi. Peneliti penting lainnya adalah Victoria Reyes-García yang memiliki keahlian luas dan melampaui dalam etnobotani dan etnoekologi. Andrea Pieroni bersama Cassandra Quave juga melakukan penelitian bagus tentang tumbuhan obat dan pangan. Selain itu, saya telah terinspirasi oleh karya Nancy Turner dan Michael J. Balick, seorang ahli etnobotani yang hebat. Terakhir, saya ingin menyebutkan Rainer W. Bussman dan Narel Paniagua-Zambrana, yang melakukan banyak penelitian etnobotani.

Apakah Anda menyarankan buku-buku etnobotani yang ‘harus dibaca’?

Sebagai permulaan, saya pasti menyarankan Pedoman Penelitian Etnobotani oleh Alexiades dan Sheldon yang diterbitkan pada tahun 1996. Di Indonesia, kami memiliki kekurangan buku dan artikel metodologis dan banyak mahasiswa dan peneliti mengalami tantangan untuk memiliki pemahaman yang baik tentang pentingnya dan desain metodologi penelitian yang solid. Kita perlu membaca lebih banyak buku dan panduan metodologis. Riset-riset di Indonesia pada umumnya cukup banyak dipublikasikan dalam bahasa Indonesia, tetapi lebih sedikit dalam bahasa Inggris, sehingga terdapat juga tantangan bahasa.

Apa yang Anda lakukan di waktu senggang? Ada hobi rahasia?

Saya suka menonton film, mendengarkan musik, dan bepergian ke tempat-tempat baru yang membawa inspirasi, ide, dan pengalaman budaya baru.

Apa tanaman favorit Anda dan mengapa?

Tanaman favorit saya adalah Arenga pinnata – aren. Di Bali, tempat saya melakukan sebagian besar pekerjaan saya, palem ini adalah spesies kunci budaya. Aren sangat penting bagi masyarakat lokal Bali, dan setiap bagian tanaman memiliki kegunaan dan kepentingan budaya. Saya terkesan dengan kegunaan tanaman ini!

Inventarisasi hutan di Cagar Alam Batukaru, Bali

Pertanyaan terakhir Wawan, dapatkah anda ceritakan apa saja kegiatan dan misi Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia?

Perhimpunan ini didirikan pada tahun 1998 dan memiliki misi untuk melakukan dan mempromosikan studi etnobotani dan etnobiologi. Kolega meminta saya untuk menjadi direktur eksekutifnya, bagian dari komitmen ini adalah untuk menyempurnakan Journal of Tropical Etnobiology yang diterbitkan oleh perhimpunan, di mana saya adalah pemimpin redaksinya. Kami di perhimpunan juga mendiskusikan bagaimana membawa lebih banyak anggota dan bagaimana memberi manfaat bagi masyarakat dan ekonomi Indonesia yang lebih luas. Konferensi terakhir yang kami selenggarakan sudah lama sekali pada tahun 2009, tetapi sekarang kami berencana untuk mengadakan konferensi pada bulan Desember 2020. Dan tahun depan, kami berencana untuk mengadakan konferensi internasional!

+ Apakah Anda ingin email Anda dibagikan? (ya, tentu) wawan.sujarwo@lipi.go.id


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: